
| Selasa, 17 September 2002 | Berita Utama |
Munaslub KAHMIBakal Calon Ketua BermunculanYOGYAKARTA - Penyelenggaraan Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) di Yogyakarta yang kontroversial ternyata tidak mengendurkan semangat peserta. Bahkan, kegiatan yang dimulai pada Minggu malam (15/9) itu diperkirakan akan berhasil mengubah anggaran dasar/anggaran rumah tangga (AD/ ART) organisasi. Sejumlah nama kandidat ketua umum mulai muncul di hari kedua, Senin kemarin. Para bakal calon yang muncul, antara lain Fuad Bawazier, Ketua Panitia Munaslub Tamsil Linrung, Ketua Harian Majelis Wilayah KAHMI Jawa Barat (Jabar) Berliana Kartakusumah, dan anggota Presidium Majelis Wilayah Jawa Timur (Jatim) Ahmad Rubai. Di antara empat nama tersebut, Ahmad Rubai secara terbuka mengumumkan pencalonan diri. Bahkan, dia menyatakan siap jika harus melakukan debat publik dengan para calon lain. Dia menyatakan akan menggalang pendukung dari kalangan muda KAHMI untuk memenangi perebutan kursi ketua umum terutama menghadapi Fuad Bawazier yang juga memiliki dukungan kuat. Sementara itu, Tamsil Linrung masih ”malu-malu” secara terbuka mengumumkan pencalonannya. Namun, dia mengaku bersedia jika peserta Munaslub mencalonkan dirinya sebagai ketua umum. Menurut Tamsil, dia melihat peserta dari daerah dan wilayah akan memberikan suara pada Fuad karena terkesan dengan sepak terjang Fuad ketika memimpin KAHMI enam bulan pertama setelah Munas di Surabaya tahun 2000. Menanggapi pernyataan Tamsil, Ahmad Rubai menyatakan tidak gentar dengan nama besar Bawazier. Sebab, dia yakin, KAHMI membutuhkan pemimpin dari kalangan yang lebih muda seperti dirinya. Kembali Diprotes Pelaksanaan Munaslub, kemarin pagi kembali mengundang unjuk rasa. Aksi yang dilakukan oleh sekitar 30 orang alumni HMI dari Badan Koordinasi (Badko) Jawa Tengah/DIY dan Jawa Barat itu merupakan yang kedua sejak acara itu dibuka Minggu malam, di Pendapa Hotel Ambarrukmo. Seperti unjuk rasa menjelang acara pembukaan, mereka menghendaki KAHMI kembali ke posisi semula. Yaitu, sebagai organisasi yang steril, independen, berfungsi memelihara ikatan silaturahmi antarumat Islam. Berbeda dari aksi pertama oleh sekitar 100 mahasiswa, unjuk rasa kemarin dilakukan persis di depan Ruang Roro Jonggrang, tempat pelaksanaan rapat pleno I. Unjuk rasa pertama hanya dilakukan di halaman luar hotel. Gubernur DIY Sultan Hamengku Buwono X yang semula dijadwalkan membuka Munaslub mendadak membatalkan rencananya. Munaslub itu akhirnya dibuka oleh Ketua Panitia Tamsil Linrung. Dalam keterangannya kepada wartawan kemarin siang, Tamsil mengatakan, unjuk rasa dan pernyataan sikap yang disampaikan adalah hal yang biasa. ”Sebagai bentuk penyampaian aspirasi, ya sah-sah saja dan boleh-boleh saja,” ujar Tamsil Linrung.(P58,ant-29e) |
Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Budaya | Olahraga
Internasional | Wacana | Ekonomi | Fokus | English | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA